Aku dan Kota Istimewa
NOVEL SEJARAH
MATA PELAJARAN: BAHASA INDONESIA
FATHIA SYAIRA FARADILLA
XII IPA 4
༶•┈┈⛧┈♛✧・゚: ✧・゚:♛┈⛧┈┈•༶
Suasana mulai sepi, ketika matahari sudah di ujung barat. Angin dingin menerpa, pertanda malam mulai mendekat. Angin dingin itu menyerbak kesetiap tempat yang tak memiliki sinar matahari, namun tidak begitu dengan rumah yang ditinggalinya, ini adalah hari dimana ia terlahir, seorang anak dari keluarga sederhana. Kehangatan dalam menyambut kehidupan baru menyelimuti seluruh ruangan, anak pertama mereka yang terlahir sebagai perempuan yang akan membuka sejarah baru bagi keluarganya.
Namanya Zara Nirwana Habibah, kini ia berusia 17 tahun, dia anak semata wayang yang sangat di manja bunda dan ayah. Tahun depan dia mulai menduduki bangku 3 SMA. Sampai saat ini, ia masih bimbang mengenai impiannya setelah lulus nanti. Hobinya menulis dan satu hal yang paling menarik semenjak dia kenal dengan teman kecilnya, ia menjadi terobsesi dengan Kota Istimewa. Siapa yang tak kenal dengan Kota Istimewa? Ya, Kota Jogja, Kota yang sangat mempertahankan budaya Jawa dan konsep tradisional.
༶•┈┈⛧┈♛✧・゚: ✧・゚:♛┈⛧┈┈•༶
Di balik jendela yang tersinari mentari pagi, Zara tertidur dengan lelap di atas kasurnya. Matanya yang sembab seusai terjaga semalaman dan isakan tangis membuat tidurnya terlihat tak begitu nyenyak. "Ah sudah pagi."
Di rapihkannya kasur lalu bergegas pergi ke sekolah. "Bun, sepatu Zara dimana?"
Sambil menunjuk arah lemari, Bunda membantu Zara menyiapkan bekalnya.
"Itu nak ada di depan, sudah Bunda siapkan. Apa kamu tidak ingin sarapan dulu?"
Zara menggeleng."Tidak usah Bun, Zara sudah telat."
Zara segera pamit lalu pergi. Begadang membuat Zara telat sampai sekolah dan di hukum.
Wajah Zara kesal "Huft, tau begini semalam aku ngga bakal menulis diary."
Bel sekolah berbunyi dengan nyaring. Secepat kilat, Zara langsung pulang ke rumah kecilnya untuk kembali menulis diary nya."Aah lelah sekali rasanya, jadi pengen cepat-cepat lulus!"
Gerutuan Zara membuat Ayah tertawa.
"Memangnya setelah lulus kamu mau apa nak?"
Bukannya menjawab, Zara justru menyeletuk."Ayah, kapan Zara ke Kota Istimewa? Dari dulu Ayah janji bakal bawa Zara kesana. Tapi ga kesampaian terus!"
Ayah hanya tersenyum. "Wah kebetulan sekali, liburan nanti kita akan pergi ke Kota impian mu itu loh."
Zara gembira bukan kepalang hingga melompat dari kasur memeluk Ayah.
༶•┈┈⛧┈♛✧・゚: ✧・゚:♛┈⛧┈┈•༶
Tak lama ujian kenaikan kelas pun berakhir, lalu di sambut dengan hari libur walau tak lama. Hari yang selalu di nanti Zara pun tiba, menuju Jogja bersama Bunda dan Ayah pada pukul 3 sore. Walau memakan banyak waktu 12 jam lamanya, Zara tetap bersemangat. Sesaat ketika jarum jam menunjukkan pukul 3 dini hari, suara mobil dimatikan menandakan telah tiba di Kota Istimewa. Sejenak ia beristirahat di sebuah penginapan hingga matahari terbit.
Suara senandung burung yang merdu membuat suasana hati Zara bertambah bahagia, udara yang sejuk dan asri memanjakan mata, walau terik matahari menusuk hingga tulang, tak ada kata keluhan sedikit pun yang di ucapkan dari bibir Zara.
"Ah Kota ini memang indah, jauh indah dari yang ku angankan, jauh indah dari yang di ceritakan dia."
"Zara, jangan jauh-jauh nak nanti terpisah dengan Bunda gimana?"
Menghiraukan apa yang di ucapkan Bunda, Zara tetap saja berlarian di Alun-alun kidul Kota Istimewa itu. Dari sekian banyak tempat wisata di Jogja, salah satu yang cukup fenomenal dan banyak dikenal oleh para pelancong adalah kawasan alun-alun yang berada di sisi selatan keraton Yogyakarta. Bagian ini merupakan halaman belakang dari keraton Yogyakarta. Selain dijadikan sebagai tempat masyarakat untuk beraktivitas, kawasan alun-alun Kidul juga menjadi pilihan wisata yang sangat menarik.
"Zara jangan jauh-jauh larinya!" Ayah teriak begitu keras karena khawatir dengan anak semata wayangnya.
"Iya Ayah, Zara ngga akan lari jauh-jauh ko. Zara mau keliling dulu ya." Balas Zara dengan riang dan penuh tawa.
Ayah mengiyakan Zara sambil tersenyum melihat anaknya yang terlihat sangat bahagia setelah kian lamanya.
"Hati-hati nak, Bunda sama Ayah tunggu disini ya. Sudah terlalu tua buat ngejar Zara sekarang."
༶•┈┈⛧┈♛✧・゚: ✧・゚:♛┈⛧┈┈•༶
Zara menghampiri sepasang pohon beringin yang tua dan besar. Terlihat beberapa anak kecil berlarian, sepasang kekasih yang sedang bermain bersama. Terdengar dari dekat mengenai sebuah permainan itu.
"Katanya yang berhasil berjalan di antara dua beringin ini dengan mata tertutup, konon keinginannya akan terkabul. Nama permainannya apa ya? Kalau tidak salah Masangin ya?"
Sesaat setelah mendengar permainan itu, Zara langsung mengambil sehelai kain dan menutupi kedua matanya dengan kain tersebut lalu Zara berjalan sekitar sejauh 20 meter menuju tengah-tengah pohon beringin. “Aduh!"
Tak sengaja, Zara menabrak seseorang. Di bukanya kain penutup itu, Zara terkejut karena yang di tabrakinya itu adalah seorang lelaki muda.
"Maaf! Tadi aku lagi main permainan itu! Mataku di tutup jadi tidak tahu kalau ada kamu di depan, maaf banget!"
Sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Zara berdiri lelaki itu tersenyum dengan manis. Zara menggenggam tangannya lalu berdiri.
Lelaki itu khawatir "Kamu ngga apa apa kan, Zara?"
"Eh? Iya ngga apa-apa ko! Makasih ya." Balas Zara
Zara berbalik ke salah satu pohon beringin dan mendekatinya. Sesaat menyentuh batang pohon itu, seketika angin berhembus semilir membawa gemerisik suara daun-daun yang bergesekan dengan sangat kencang. Suasana yang ramai menjadi sunyi bak tenggelam di tengah lautan.
Lelaki itu penasaran "Kamu tahu kan permainan Masangin? Katanya kalo berhasil memainkannya, keinginanmu akan terkabuli. Tadi kamu sedang main Masangin?"
"Iya, tadi aku lagi main Masangin. Tapi sayang banget aku gagal!"
"Memangnya keinginan apa yang ingin dikabulkan kalo kamu berhasil?"
Dengan wajah yang tersenyum dan sedikit merona "Aku mau bertemu dengan teman masa kecilku dulu. Dia janji kalau ketemu lagi bakal ajak aku berkeliling ke Kota Istimewa ini. Sayangnya sekarang aku tak tahu dia ada dimana. Mungkin saja dia sudah melupakanku sih, wajar saja sudah 7 tahun yang lalu."
Sambil tersenyum lelaki itu berkata "yah semoga harapanmu dapat terkabul ya, lelaki yang kamu maksud itu beruntung ya.. " Suara pelan di akhir
Zara menjawab "iya semoga"
Zara tak mendengar akhir kata lelaki itu. Papanya memanggil Zara untuk kembali.
༶•┈┈⛧┈♛✧・゚: ✧・゚:♛┈⛧┈┈•༶
Hawa malam yang mulai dingin pun tiba. Gadis itu meminta Ayahnya untuk membawanya ke tempat yang selalu di dambakannya, Jalan Malioboro. Gadis itu terlihat bahagia saat Ayahnya memenuhi permintaannya. Jalan Malioboro terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas Jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual kuliner Jogja seperti gudeg. Jalan ini juga terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekspresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, dan lain-lain. Di kawasan Malioboro terdapat ciri khas arsitektur utama yakni jawa, china, eropa dan islam.
Di jalan Malioboro, ada begitu banyak yang menarik perhatian Zara. Mulai dari kuliner, rumah hantu Malioboro, oleh-oleh, andong, dan masih banyak lagi. Zara terlalu keasyikan berkeliling jalan itu hingga tak menyadari keadaan sekitarnya, Zara terpisah dengan ayah dan bunda.
Wajah Zara terlihat ketakutan, panik, gelisah, berlarian kesana kemari mencari Bunda dan Ayahnya. Hingga sewaktu-waktu ia menyerah, mata Zara mulai berkaca-kaca karena ia tak kunjung menemukan Bunda dan Ayah.
"Huwaaaa!" Tangisan Zara membuat gempar Jalan Malioboro.
Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan Zara ke tempat yang lebih sepi. Orang itu menenangkan Zara dengan membelai kepalanya. Sontak membuat Zara mendorong orang itu. Zara terkejut, orang itu ternyata lelaki yang ia temui di alun-alun. Pikirannya penuh dengan ribuan pertanyaan,
"Dari kemarin aku ingin bertanya dari mana kamu tahu namaku? Dan kenapa kamu selalu datang tiba-tiba? Kenapa juga kamu memelukku seperti itu layaknya kenal denganku?"
Lelaki itu terkejut, wajahnya yang sedikit tersenyum namun terlihat sedih menjawab "Maaf ya aku tiba-tiba datang. Maaf tadi aku membelai kepalamu, aku juga ngga tau kenapa tapi aku rasa kamu butuh ketenangan."
Zara mengerutkan alisnya, bibirnya terlihat cemberut, bukannya membujuk lelaki itu malah menertawakan Zara. Tentu, Zara semakin marah.
"Ih apa-apaan sih! Kenapa ketawa sih? apa yang lucu?"
Dengan polosnya, lelaki itu membalas "Yang lucu? Kamu Zara, wajah kamu lucu banget.”
Seketika wajah Zara memerah merona seperti udang rebus setelah melihat lelaki itu tertawa dan menggodanya.
"Maaf ya aku tertawa. Habisnya lucu banget sih."
Nada yang tegas terucap dari bibir Zara "Kamu belum jawab pertanyaan ku! Kamu siapa?"
Mendadak lelaki itu sedih "Ternyata memang benar kamu tidak ingat aku."
Spontan Zara menanggapinya "Ingat apa?"
"Tak apa, kamu mau tau aku siapa kan? Ikut aku sini." Akan ku bawa kamu ke tempat janji itu. Gumam lelaki itu.
Lelaki itu menggenggam tangan Zara dengan erat seakan-akan tak ingin kehilangannya. Lelaki itu menoleh ke arahnya, menatap matanya, sembari sedikit menjelaskan,
"Ini adalah titik nol kilometer Jogja. Tempat yang sangat indah bukan? Kawasan ini kerap dikunjungi wisatawan lantaran lokasinya dekat dengan beberapa tempat wisata. Tak hanya itu, titik nol kilometer juga memiliki beberapa bangunan kuno dan suasana vintage yang membuat pengunjung senang berjalan-jalan di sana. Dulu kamu selalu merengek padaku untuk membawamu ke tempat ini."
"Eh? Sebentar, merengek gimana?” Tanya Zara yang kebingungan
Lelaki itu tersenyum lalu menjawab dengan santai "Iyaa, sayang sekali ya kamu lupa semua ini."
"hhmmm... Kalo aku lupa kenapa kamu tidak mengingatkan ku saja? Mungkin aku langsung ingat."
"Tak apa, tak perlu. Biar waktu yang menjawab."
Rasa rindu yang telah tersimpan begitu lamanya di dalam hati lelaki itu, terasa sangat menusuk jantung Zara bak tertusuk oleh sebilah pedang.
Lelaki itu terlihat kecewa. Sambil menatap mata Zara dengan segenap ketulusannya serta menggenggam dengan begitu eratnya. "Tetaplah disini bersamaku, Zara. Aku ingin mengajakmu mengelilingi Kota Istimewa ini. Seperti janjiku dulu."
Bagaikan di mabuk cinta pada pandangan pertama, Zara menuruti pinta lelaki itu. Entah mengapa saat ia berada di dekat lelaki itu, ia merasa aman dan nyaman
Mereka mulai membuka buku petualangannya dengan mencoba beberapa jajanan tradisional khas Jogja seperti yangko sambil mengelilingi kota yg luas ini mereka sesekali berhenti untuk mengambil gambar.
Waktu demi waktu, tawa demi tawa, perjalanan mereka seketika terhentikan oleh rintikan air. Hujan yang datang untuk menyejukkan Kota itu, menghentikan canda dan tawa mereka.
"Ah, hujan..." Terucap sepatah kata keluhan keluar dari mulut lelaki itu.
Zara kecewa tak bisa melanjutkan perjalanannya. "Sayang sekali ya, padahal lagi asyik-asyiknya."
"Iya, ya." Sahut lelaki itu.
Sesaat ketika suara ramainya Malioboro itu memecah suasana canggung antara mereka berdua, Zara menyadari lelaki itu tak lagi ada di sampingnya. Zara mencoba memanggilnya, walau upaya yang dilakukannya tak membuahkan hasil karena ia tak tahu nama lelaki itu. Tak ada sedikitpun jawaban dari dia yang tiba-tiba menghilang. Hingga pada akhirnya Bunda menemukan Zara dan membawa pulang anak semata wayangnya itu.
Letihnya Zara membuat tubuhnya sempoyongan hingga merebah di atas kasur. Seketika ia berangan-angan dan bergumam hingga terbayang-bayang sosok teman masa kecilnya yang sempat ia lupakan.
"Ah, siapa ya nama dia? Kenapa aku tidak bisa ingat apapun tentangnya?" Zara kesal menggerutu karena tak menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Ia merasa gagal menjadi seorang teman sebab Zara melupakan teman kecilnya itu. Di ambillah sebuah buku diary yang selalu ia isi dengan curahan hatinya. Zara menuliskan tentang harinya, tentang Kota itu, dan tentang lelaki itu. Zara hanyut dalam kegelisahan, merasa ada sesuatu yang kurang, ada yang terlewat sampai-sampai ia terlelap di atas buku diary itu.
༶•┈┈⛧┈♛✧・゚: ✧・゚:♛┈⛧┈┈•༶
Saat mentari mulai menyinari Kota itu, hari berganti menjadi Minggu pagi. Aroma raksi yang semerbak, mengharumkan seisi ruang itu. Begitu pun dengan aroma nasi goreng yang di buat Bunda, membuat energi Zara terisi penuh kembali. Energi Zara seakan-akan tak ada habisnya. Ia bertanya “Ayah! Hari ini kemana?”
“Kita ke Prambanan yuk.”
“Aye aye kapten!”
Cuaca hari itu pun juga mendukung, dingin namun tak hujan, panas namun berawan. Perjalanannya yang lumayan jauh membuat Zara sedikit letih, namun tidak dengan rasa penasarannya.
“Candi Prambanan merupakan candi Hindu yang terbesar di Indonesia. Sampai saat ini belum dapat di pastikan kapan candi ini dibangun dan atas perintah siapa, namun kuat dugaan bahwa Candi Prambanan dibangun sekitar pertengahan abad ke-9 oleh raja dari Wangsa Sanjaya, yaitu Raja Balitung Maha Sambu. Dugaan tersebut didasarkan pada isi Prasasti Syiwagrha yang ditemukan di sekitar Prambanan dan saat ini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Prasasti berangka tahun 778 Saka (856 M) ini ditulis pada masa pemerintahan Rakai Pikatan. Denah asli Candi Prambanan berbentuk persegi panjang, terdiri atas halaman luar dan tiga pelataran, yaitu Jaba (pelataran luar), Tengahan (pelataran tengah), dan Njeron (pelataran dalam). Halaman luar merupakan areal terbuka yang mengelilingi pelataran luar. Pelataran luar berbentuk bujur dengan luas 390 m2. Pelataran ini dahulu dikelilingi oleh pagar batu yang kini sudah tiggal reruntuhan. Pelataran luar saat ini hanya merupakan pelataran kosong. Belum diketahui apakah semula terdapat bangunan atau hiasan lain di pelataran ini.” Jelas Tour Guide itu sembari mengelilingi Candi Prambanan.
Namun, waktu terasa cepat yang mengharuskan Zara mengucapkan selamat tinggal pada Prambanan. Di perjalanan menuju parkiran, Zara melihat secarik kertas lusuh di atas tanah. Zara mengambilnya dan membaliknya. Terdapat sebuah tulisan yang berisikan pesan kecil beraksara Jawa, namun Zara tak mengerti dengan bahasanya. Ia memutuskan untuk bertanya kepada Tour Guide. Namun, sesaat ketika ia melihat keadaan sekitarnya, Zara tersadar bahwa tak ada siapapun disana kecuali seorang kakek tua yang menghampirinya. Tiba-tiba Kakek itu mengatakan “Urip mu jek dowo, ojo terpaku mbi sek ra nyoto.” Kemudian pergi menghiraukan Zara yang kebingungan tak tahu apa yang di maksud Kakek itu. Namun, tak lama setelah kejadian itu, Zara mulai bisa mendengar suara sekitarnya. Zara mulai mencari Bunda dan Ayahnya.
“Darimana saja kamu, nak?”
“Oh itu, tadi Zara habis liat candi yang runtuh itu!”
“Kamu ini, buat khawatir saja.”
“Hehe.”
Di dalam mobil putih yang di kendarainya, Zara merenung sejanak. “Isi kertas itu apa ya? Aku harus tanya siapa yang tau aksara Jawa?” Benaknya.
“Zara ayo turun, kita sudah sampai.” Ajak Bunda.
“Loh? Sampai dimana, Bun?” Tanya Zara yang kebingungan
“Pantai Drini. Ini tempat terakhir kita di Jogja, Zara.” Sahut Bunda
Zara melangkahkan kakinya satu per satu. Kakinya terasa kasar namun tak menyakitkan, lembut namun tak selembut potongan tahu. Wajah Zara yang tadinya terlihat muram menjadi wajah yang gembira. Matanya melihat sebuah pulau karang di bibir pantai yang membelah Pantai Drini. Aroma laut yang tercium seakan-akan memamerkan keindahannya. Sang surya yang belum tertidur, masih berbaik hati melukis langit yang biru, menjadikan latar untuk hamparan pasir putih. Sebuah pulau kecil di tengahnya, membuat pantai ini terbelah. Pulai ini memisahkan sisi Timur dan Barat menjadi dua karakter yang berbeda bak seorang manusia berkepribadian ganda. Zara berlarian di tepian pantai itu hingga menaiki sebuah karang besar. “Aroma laut ini sungguh membuatku tenang, rasanya aku ingin terus berada di sini” Deburan ombak yang menyapu pasir juga ikut mengenai kaki Zara yang asik memandangi lautan
“Syukurlah kalau kau suka, pemandangan di sini sangat candu dengan suasana tenangnya, aku selalu mampir kemari saat rindu padamu, Zara.” Zara menoleh menuju sumber suara, pandangannya mengarahkannya pada seorang pemuda yang membuatnya terkejut sesaat.
“Ah kamu! Apa kabar? Kemana saja kamu, rasanya sudah lama tak bertemu." Menghampiri lelaki itu Zara bertanya dengan cepat.
Memandang wajah Zara lelaki itu terkekeh “Haha, kamu ini bisa saja, padahal baru semalam kita bertemu”
Zara tersenyum dan menarik tangan lelaki itu membawanya lari mengelilingi pantai, melepas tangannya, Zara tersenyum “Tolong lagi ya! Tolong bawa aku keliling pantai ini.” Pintanya, lelaki itu mengangguk dan segera menyusul Zara lalu memegang tangannya.
Mereka berdua keasyikan keliling dan bermain, penuh canda dan tawa, wajah yang selalu tersenyum membuat suasana romantis di Pantai Drini. Mereka beristirahat sejenak menduduki pekarangan. Seraya menatapi langit cerah yang biru itu, mereka saling bersandar di pundaknya, seketika Zara terlelap di samping lelaki itu. Zara seolah-olah mulai di bawa hanyut ke dalam mimpinya. Dalam mimpinya ia melihat dirinya di masa kecil dan sesosok lelaki teman sebayanya. Terlihat mereka bermain di sebuah taman di atas pegunungan, wajah anak itu terasa tak asing, hingga ketika mereka saling mengejar, terdengar suara teriakan anak itu hingga membuat Zara terbangun dari tidurnya. Kedatangan senja yang mulai menenggelamkan sang surya membawa pergi suasana itu. “… Mu”
“Hm?” Mengalihkan pandangan nya sejenak lelaki itu menampilkan wajah bertanya.
“Beri tahu aku namamu!” Sedikit meninggikan suaranya Zara menatap mata lelaki itu.
Kembali mengalihkan pandangannya ke depan lelaki itu tersenyum “Ilalang”
Teringat dengan sesuatu Zara kembali bertanya “kamu… Ilalang? Anak kecil yang mengenalkanku pada kota istimewa?”
“Ahaha, aku ngga nyangka kamu ingat, iya, aku teman masa kecil mu, sekarang aku sudah bukan anak kecil lagi” Ilalang tersenyum miring di akhir kalimatnya seolah mengejek, senyumnya hilang saat ia melanjutkan kalimatnya. “Seharusnya kamu melupakanku saja. Karena ego ku kamu malah mengingat hal buruk.”
Ilalang menatap butiran pasir di bawahnya dan tersenyum getir. “Hal buruk apa?” Zara melayangkan tatapan polosnya.
“Kamu ingat bukan aku yang memberi buku diary itu? Dulu aku minta kamu buat isi diary itu tentang keseharianmu kan? Tentang perasaanmu, harimu, semuanya. Alasannya, agar sewaktu kita bertemu kembali aku tahu apa saja yang kau lakukan selama tak bersamaku.”
“Lalu apa hubungannya diary itu dengan hal buruk yang kau maksud?”
“Dulu sekitar 6 tahun yang lalu. Aku pernah mengajakmu bermain di perbukitan. Aku dan kamu bermain kejar-kejaran. Hingga tak sengaja aku mengagetimu lalu kakimu tergelincir dan jatuh dari atas tebing. Kamu tak sadarkan diri, Sekujur tubuhmu dipenuhi darah. Aku ketakutan, berusaha agar kamu di bawa ke rumah sakit. Hingga di perjalanan pulang, aku bertemu dengan Ayahmu. Ayahmu langsung menggendongmu ke rumah sakit. Sampai disana, Bunda menyusul, Bundamu menghampiriku dan menampar pipiku. Sakit, namun tangisnya ku tahan.” Jelas Ilalang
“Itu bukan salahmu! Wajar bukan anak kecil bermain dan bercanda.” Zara menggenggam tangannya erat
“Tidak, itu salahku, karena ku kau mengalami hal itu.”
“Jika begitu kenapa kau tak pernah menemuiku.”
“Ibumu melarangku, Zara. Setidaknya sampai kau mengingatku, tapi aku malah muncul dan membuatmu mengingat hal itu lagi.”
Terkejut dengan yang di dengarnya, Zara meremas tangannya menahan tangis.
“Maaf membuatmu seperti ini, aku terlalu egois hanya karena janji itu, janji untuk membawamu keliling Kota Istimewa. Aku menyayangimu.” Ilalang menatap Zara dan tersenyum hangat.
Tak kuasa menahan tangisnya, air mata Zara keluar.
“Aku sudah memenuhi janjiku,” Ilalang menggelengkan kepalanya “… Tidak bukan janjiku padamu tapi janji pada dirimu sendiri, harapanmu untuk mengenal kota istimewa ini yang membawamu padaku, pengetahuan yang kau cari dengan dalih informasi dariku, sosok yang menemani harimu yang sepi, Zara ini mungkin akan menjadi hari terakhir kita bertemu, walau kita hanya bertemu sejenak, kau mungkin akan mengingatku hanya sebagai sosok dalam bayanganmu mulai saat ini, tugasku sudah selesai, sekarang tugas mu untuk berkembang dan melangkah maju menjadi versi terbaik dari dirimu, selamat tinggal, teman masa kecilku.”
-TAMAT-

Komentar
Posting Komentar